Seringkali kita merasa telah membuat sesuatu yang tak pantas diperlihatkan ke orang banyak, sampai-sampai menyembunyikannya dan hanya menjadi konsumsi pribadi. Nanti, ketika ada yang berani memberi nilai positif, menyemangati kita bahwa karya itu layak, barulah kita semangat memperlihatkannya ke orang banyak. Barangkali ini yang dialami Tedy Soeriaatmadja, suami Raihaanun, pemeran utama film ‘Lovely Man’ (2011) yang rilis di bioskop Indonesia 10 Mei 2012 lalu.

Lovely Man bercerita tentang Syaiful (diperankan Donny Damara) yang meninggalkan Cahaya (Raihaanun) sejak usia 4 tahun bersama ibunya. Syaiful lari ke Jakarta, melanjutkan perkerjaannya sebagai waria yang sering mangkal di jembatan dan memuaskan nafsu sekejap laki-laki kesepian. 

Ketika lulus SMA, Cahaya mencari ayahnya. Ia rindu sosok ayah yang telah 14 tahun hilang dari kehidupannya. Ia membawa satu misteri yang justru diketahui dengan mudah oleh ayahnya.

Sepintas, film ini mengingatkan kita pada gambar-gambar sederhana dan ‘goyang’ khas film dokumenter, namun ya, jangan sekali-sekali terjebak oleh gerak gambar saat menonton film fiksi. Ada sedikit ciri film Iranian pula dalam film ini, sebab tak secerewet film cerita Indonesia kebanyakan. 

Film ‘Lovely Man’ ini karya independen Mas Tedy yang telah lama melanglang festival internasional, antara lain Busan Internasional Film Festival 2011, Mumbai Internasional Film Festival 2011, dan World Film Festival Bangkok 2011. Di Asia Film Festival, Donny Damara yang selama ini dikenal sebagai aktor laga atau aktor film cerita yang lurus-lurus saja gendernya, menyabet Best Actor atas perannya sebagai Syaiful si waria dalam gestur paling naturalnya. Ia bahkan mengalahkan aktor kawakan Asia, Andy Lau. Tedy sendiri sebagai sutradara dinominasikan dalam kategori Best Director. 

Banyak isu sosial yang diangkat dalam film ini; mulai dari peran Raihaanun sebagai Cahaya, gadis pesantren yang ternyata hamil di luar nikah dan belum siap memiliki anak, Syaiful yang terjebak dengan dunia transeksual dan kewajibannya menafkahi keluarga yang Ia tinggal. Sisi kelam kota megapolitanpun dibocorkan di sini, premanisme dan hubungannya dengan PSK waria. Malam-malam Jakarta yang terus hidup sampai pagi. Sampai hukuman-hukuman sosial bagi masyarakat yang dianggap mempertahankan hal-hal tabu.

‘Lovely Man’ bicara cinta yang luas. Tak hanya cinta antar jenis, cinta sejenis, dan cinta akan keluarga dibingkai jadi satu cerita sederhana sarat makna. Di mana ketika seseorang berusaha lari dari masa lalu justru akan kembali dengan mudahnya dalam sekali kedipan mata. 

“Jangan lari dari masalah, nikmati masalah itu seperti kita dulu menikmati hujan,” pesan Syaiful kepada Cahaya sebelum mereka berpisah selamanya.

sumber: asianwiki.com

Tedy Soeriaatmadja dan Raihaanun

sumber: www.kapanlagi.com

Lihat trailernya di http://www.youtube.com/watch?v=9xT1HtxPNwE

Sehabis natap credit title, saya dan seorang teman berlari sampai ke lobi Studio 21 Mtos untuk melihat siapa saja di balik pembuatan film ‘Keumala’, eh tidak taunya poster ‘Keumala; sudah turun, diganti dengan film Indonesia lain. Saya lupa judulnya. Cepat sekali film ini turun. Padahal ‘Keumala’ rilis 1 Maret 2012 kemarin dan menyuguhkan gambar-gambar indah dalam bentuk landscape pesisir pantai, laut, dan pegunungan.

‘Keumala’ bercerita tentang seorang penulis novel terkenal yang menderita resinitis pigmentosa. Ia melakukan perjalanan dari Jakarta ke Sabang dengan kapal Kelud. Di kapal tersebut ia bertemu dengan seorang fotografer bernama Langit yang belakangan ini banyak memotret gambar pemandangan dan senja sebagai bentuk pelariannya dari masa lalu.

Di kapal itu, ia juga bertemu dengan Inong, anak dari seorang ibu yang hilang pasca tsunami di Aceh. Inong memiliki foto ibunya yang hendak ia perbaiki karena rusak terkena air, ia meminta bantuan pada Langit. Inong dan Keumala tinggal di daerah yang sama di Sabang.

Pertemuan Langit dan Keumala tidak berjalan baik. Mereka saling mengejek masa lalu dan karakter masing-masing. Langit yang ketus, Keumala yang gengsian. Setiap bertemu, mereka pasti beradu mulut. Menariknya, adu mulut itu tidak disampaikan dalam kalimat konkret, melainkan dalam bahasa puitis yang terkadang sarkas.

Setelah merapat di Padang, Keumala menghilang. Ia frustrasi dengan kebutaan yang akan ia derita. Dari situ ia memutuskan untuk menghapus semua orang-orang di masa lalunya. Namuan Langit tidak bisa melupakannya. Ia mengunjung Inong dan meminta Inong mengantarnya ke tempat Keumala. Langit lalu menyewa kamar tepat di samping kamar Keumala dan menyamar sebagai Arthur yang bisu agar dapat menjaga Keumala tanpa membuat gadis itu tersinggung.

Sepintas, film ini mengingatkan saya akan ‘L’Amant’, sebuah film perancis bercerita tentang gadis belia asal perancis yang menjalin cinta dengan seorang Cina di tepian sungai Mekong. Keduanya bertemu pertama kali di pelabuhan dan kapal menjadi penanda sebuah perjalanan cinta.

Andhy Pulung, sang sutradara berhasil mengangkat film cinta bercerita sederhana bahkan cenderung klise dengan cara yang unik. Saya kagum dengan angle dan gambar-gambar cantik yang tepat proporsi. Jadi sense yang ingin disampaikan kepada penonton dapat, penonton jadi sabar menanti scene selanjutnya walaupun scene tersebut dapat kita tebak a seperti apa. Jarang sekali saya menyaksikan gambar-gambar fotografis seperti itu. Tambahan lagi, setting alam Sabang yang jarang diekspos selama ini. Ada beberapa kali saya merasa berada di negara lain, padahal masih di Indonesia. 

Sebagai penikmat sastra, saya kadang menangkap ada beberapa kalimat yang bias. Mungkin penulis fokus pada pemilihan diksi yang puitik, hingga kurang awas pada maknanya.

Nadia Vega yang berperan sebagai Keumala beberapa kali ‘bocor’. Keumala si penderita rabun senja tidak buta siang hari. Di beberapa adegan, Nadia Vega berakting buta padahal bukan pada waktunya. But well, aktris cantik ini berhasil memerankan tokoh Keumala yang menurut saya memang cocok diperankan olehnya.

‘Keumala’ cocok ditonton oleh pelaku sastra yang bijak di karya saja. Walaupun agaknya kurang etis menilai seorang sastrawan dari kesehariannya. Sindiran Langit atas sikap Keumala yang tidak inspiratif seperti dalam karya-karyanya akan menohok pelaku sastra yang sulit diajak komunikasi di dunia nyata.

 

pictures from www.keumala-movie.com

Iking Siahsia, seorang film maker independen Makassar yang mengawali karirnya secara tidak sengaja dengan ide iseng untuk film pendek ‘Please, Kartika’ pada tahun 2003. Salah seorang pengurus ForFilm Makassar ini sekarang menyibukkan diri bergaul dengan anak-anak SMA di Makassar dan sekitarnya, belajar bersama mereka, sembari memberikan masukan mengenai pembuatan film pendek, penulisan skenario, dan pertimbangan sinematografi.

Menurut Iking, sebenarnya definisi film indie itu melekat di banyak sudut pandang. Dia sendiri berpendapat bahwa film indie bergerak sendiri, di luar industri, sebuah gerakan semangat. Film indie menawarkan gaya film alternatif dan eksperimental. Filmmaker ini berbeda dengan filmmaker industry minded yang memikirkan untung dan rugi sebuah produksi film.

Ditanya mengenai psikologi filmmaker di Makassar secara umum di awal munculnya, ia menjawab mereka bergerak dinamis dan kuat di beberapa personal. Geliat kompetisi berkarya masih kurang. Maksudnya, para filmmaker di kota ini melakukan produksi film untuk kebutuhan sendiri atau antar personal sebuah kelompok film. Belum ada gerakan-gerakan khusus yang ‘mengadu’ film karya sendiri dengan karya orang lain. Akibatnya, ada film yang ‘sukses’ sendiri, ada film yang jadi namun tidak dinonton orang.

Iking mengibaratkan filmmaker independen di Makassar itu seperti ikan-ikan di dalam akurium dan orang yang menonton gerak-gerak ikan itu dari luar. Ada ikan kecil, ada ikan yang besar. Ikan besar terlihat eye-catching dari segi ukuran dan mungkin corak tubuh yang menarik. Sehingga orang yang melihat dapat langsung menunjuk ikan-ikan mana yang mereka sukai. Ada pula jenis ikan tertentu yang senang berkelompok, jenis lain cenderung menyendiri. Inilah analogi Iking Siahsia mengamati perilaku filmmaker di Makassar. Kini, akuarium tersebut sudah dipenuhi ikan-ikan tambahan jenis baru. Gerakan mereka tetap ‘timbul-tenggelam’. Kadang ikan tersebut naik ke permukaan, ada yang statis di tengah, ada pula yang betah berada di dasar akuarium.

Filmmaker Makassar terlihat moody. Pendapat ini didasari kondisi psikologi pekerja film independen yang berdasar pada minat dan minimnya dana produksi. Film independen memiliki ciri khas di managemen dan pendanaan yang sederhana. Sulit memang menjadikan film independen sebagai industri, seperti film komersil. Sebagian filmmaker beranggapan, film independen adalah lahan filmmaker idelis yang tidak ingin terikat kontrak dan peraturan film komersil (bisnis film). Dalam film independen, seorang film maker bebas menentukan ide, management produksi, pemain, lokasi, durasi, bahkan cara kerjanya sendiri. Inilah keunikannya. Untuk alasan ini, jika satu karya ingin mendapat tempat di hati penonton, ingin merebut perhatian penonton film industri, seorang filmmaker membutuhkan screening. Baik itu screening komersil, festival, atau screening independen yang kebanyakan dibuat sendiri oleh filmmaker film yang bersangkutan.

Ikingpun menaruh perhatian terhadap mental penonton film Makassar. Selama menekuni dunia film pendek selama 9 tahun (sejak booming-nya ‘Please, Kartika’), ia mendapati masyarakat yang sebelah mata memandang perfilman independen. Filmmaker masih berusaha mencari penonton. Bukan penonton yang mendatangi. Cara memandang tersebut mulai berubah pasca menggeliatnya perfilman independen, menyusul screening regular Solata, Cinematica, dan gerbios Dewi Bulan. Penonton kini memiliki tiga lebih (menghitung screening lain yang bersifat temporal dan momentum) ‘bioskop’ alternatif di luar jaringan XXI. Screening-screening independen ini, walau digerakkan dalam bingkai kerja kolektif suatu komunitas, memperkenalkan langsung film-film pendek Makassar. Informasi-informasi mengenai perfilman independenpun kini mudah diakses lewat situs jejaring sosial.  

Makassar telah memiliki banyak filmmaker dan program screening tempat mereka mengajukan karya kepada penonton. Menurut Iking, tinggal bagaimana kita memperkenalkan film independen dengan cara-cara khusus untuk seluruh lapisan usia masyarakat. Tentu sulit mengajak penonton bioskop beralih ke film independen. Sebab mereka terbiasa menonton film ‘mewah’. Iking memahami, usia remaja lebih mudah diperkenalkan jenis film seperti ini. Dua tahun terakhir, Iking fokus mendampingi anak putih abu-abu membuat film-film pendek untuk menciptakan mindset film independen di pikiran mereka dengan cara persuasif dan edukatif. Selain itu, ia memiliki treatment khusus mengawali mereka. Iking sering membawa film-film independen asing atau film yang selama ini tidak mereka dapatkan di bioskop untuk memperluas wawasan film.

 

20 Januari 2012.

Seperti biasa, kawan, gerobak bioskop Dewi Bulan turun sekali sebulan. Awal tahun ini sedikit berbeda, 2012 diawali menonton film ‘Pearl Jam 20’. Dan kini, hari ini, 14 Januari 2012 Dewi Bulan turun membawa ‘Linimas(s)a’ dan ‘Ruma Maida’. Tak ada tema khusus episode ini, kita berbagi bersama di program layar tancap ini, bertemu teman-teman baru bahkan teman lama, dan tukar-menukar akun situs jejaring sosial.

Dewi Bulan turun setiap bulan di Markas Tanahindie, Kampung Buku. Jalan Abdullah Dg. Sirua, kompleks BTN CV. Dewi no. 192E. Layar akan ditancap tepat pukul 19.00. Gerbios dimulai sambil memutar video konser Scorpio dan film-film pendek produksi Makassar.

 

Sinopsis:

 

Linimas(s)a | Documenter | ICT Watch (2011) | 45 menit | International Premiere: Manchester University — UK (April 4th, 2011)


 

~The 1st 45 minutes documentary movie about how social media & Internet become a trigger and medium of social movement in Indonesia~

 

Linimas(s)a, sebuah film dokumenter yang bercerita tentang kekuatan gerakan sosial yang terhimpun dari situs jejaring sosial internet seperti facebookdan twitter. La hirnya gerakan ini dipicu oleh sejumlah peristiwa penting yang terjadi di Indonesia. Dimulai dari kasus kejanggalan hukum Prita Mulya Sari sampai gerakan kemanusiaan untuk korban Merapi. Ketika Prita Mulya Sari ditahan akibat tuduhan pencemaran nama baik oleh rumah sakit Omni Internasional, kasus ini kemudian menjadi perbincangan hangat dan serius di berbagai situs jejaring online, media elektronik maupun cetak. Twitter dan facebook yang merupakan situs jejaring social terbesar  penggunanya di Indonesia, begitu ramai membicarakan kasus ini.Dari sinilah kemudian lahir gerakan solidaritas untuk Prita dengan melakukan kumpul koin guna membantu meringankan denda yang harus dibayarnya.

 

 

Ruma Maida | Teddy Soeriaatmaja | Atiqah Hasiholan, Yama Carlos, Davina Veronica, Nino Fernandez, Frans Tumbuan, Wulan Guritno |90 min |2010


              “Kerusuhan: Salah Siapa?” 

 

Maida adalah seorang gadis kikuk yang idealis. Telah dua tahun ia mengelola sekolah bagi anak jalanan di sebuah bangunan tua yang terbengkalai. Disulapnya sisi dalam bangunan rongsok itu bagai istana putri salju dan para kurcaci. Meja dan Bangku dibuat dari sisa kayu. Perlengkapan kelas dibuat bersama dari barang bekas. Pada suatu hari, seorang pengusaha membeli kavling itu dan hendak mengubahnya menjadi sentra bisnis. Maida dan sekolah liarnya terancam terusir. Ia berjuang keras untuk mempertahankan istananya. Dalam perjuangannya, Maida justru menyibak misteri dan sejarah bangunan tua tersebut. Bangunan itu pernah menjadi saksi atas kisah cinta yang syahdu dan tragis antara dua insan dengan latar pergerakan kebangsaan dan kemerdekaan Indonesia


                                      DEMI TUHAN, ACARA INI GRATIS!!!

1. The Raid
2. Rumah Bekas Kuburan
3. Negeri 5 Menara
4. Opera Gajah (Falcon Pictures)
5. Habibie & Ainun (MD Pictures)
6. Hallo GoodBye-Titien Wattimena (Falcon Pictures)
7. Ambilkan Bulan Bu………! (Mizan Production)
8. Pocong Kesetanan
9. Hattrick (Sineas Ropert Ronny)
10. Mother Keder Emakku Ajaib Bener
11. Xia Aimei (Falcon Pictures)
12. Pulau Hantu 3
13 Ummi Aminah
14 Malaikat Tanpa Sayap (StarVision)
15 Broken Hearts (Starvision)
16. Udin Cari Alamat Palsu (UCAP- Skylar)
17. The Witness (Skylar Pictures)
18. Tolong Anakku Kesambet
19. Duet Pocong-Kuntilanak Roxy Mas
20. Endless Love
21. Modus Anomali (Joko Anwar)
22. Demi Ucok
23. HI5TERIA (5 Sutradara 5 Mimpi Buruk)
24. Republik Twitter (Amalina Pictures)
25. Cahaya Di Atas Cahaya
26. Pocong Bugil
27. Java Heat
28. Payung Merah
29. PostCard From The Zoo
30. Ellyas Pical The Exocet (Dilema The Movie)

source: www.kabarindo.com